by

Media Singapura Sebut Ada Bajak Laut, Pengamat Maritim : Jangan Lebay



BATAM, Terkait pemberitaan media Singapura yang memuat kejadian pencurian di Selat Singapura yang terjadi pada Minggu, (19/01/20) pukul 11.30 waktu setempat, dimana telah terjadi upaya pencurian dengan pengancaman terhadap sebuah kapal Tug Boat Kim Hock Tug 9 tujuan Vietnam yang bertolak dari Singapura.

Dan dalam 5 jam pada hari itu, terjadi setidaknya dua kali tindakan pencurian yang melibatkan pelaku dengan menggunakan sampan, alat transportasi laut tradisional dan itu disebut sebagai drama pembajakan oleh media Singapura TheNewPaper, sebagaimana dilansir pada hari ini, Senin, (20/01/20).

Menanggapi pemberitaan media negeri Singa tersebut, Pengamat Maritim Kepri Capt. Ahmad Irfan, M.Sc menilai media Singapura terlalu mendramatisir kejadian.

Menurutnya istilah Pembajakan (Piracy) sudah diatur dalam UNCLOS ( United Nations Convention on The Law of the Sea) 1982 dan diratifikasi oleh Indonesia dengan UU No. 17 Tahun 1985. “Jadi kalau Pencurian jangan disebut Pembajakan karena itu berbeda, jangan lebay lah,” tegas Irfan.

Irfan menyayangkan Pemerintah Indonesia hanya diam terhadap tudingan adanya Bajak Laut di Selat Singapura padahal Singapura sendiri selama ini adalah pihak yang paling menikmati keuntungan dari bisnis maritim yang ada di Selat Singapura hingga Selat Malaka.

Menurut Irfan, justru Singapura lah yang selama ini melakukan praktek curang dan jelas-jelas melanggar kedaulatan wilayah RI dengan melakukan pemanduan kapal secara ilegal di wilayah perairan RI. “Coast Guard China di Natuna cuma ngawal kapal nelayan yang nilai ekonomisnya gak begitu tinggi, Singapura selama ini meraup milyaran dollar dari bisnis maritim di depan mata kita yang hanya berapa mil dari Batam,” rinci Irfan panjang lebar.

Senada dengan Irfan, Pengamat Geopolitik Kepri, Buana Fauzi Februari, SE., SH., MM menuturkan bahwa selama ini banyak hal yang dikuasai Singapura dan RI belum mampu merebut kembali.  Satu diantaranya FIR (Flight Information Region) dimana ATC Singapura mengatur penuh ruang udara di kawasan barat Indonesia, selain itu Buana yang merupakan Alumni Lemhannas PPRA 51 Tahun 2014 menyebut pemanfaatan ruang laut di Selat Singapura sepenuhnya dikuasai Singapura dan Indonesia selama ini hanya menerima sampah tumpahan minyak saja.

“Kalau mau jujur, Singapura lebih berbahaya dari China” pungkas nya.(red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *