by

Batam Tampung Hasil Pertanian dari Kepulauan

KARIMUN:- Masing masing daerah di Kepri memiliki hasil pertanian andalah. Ini salah satu upaya yang digagas keperintah provinsi Kepri agar ketergantungan pasokan dari luar daereh bisa dikurangi. Alasannya agar setiap hasil pertanian di Kabupaten dan Kota di Kepri bisa mendapatkan pasar yang bagus hingga minat bercocok tanam semakin membaik.

Seperti halnya hasil pertanian dari Pulau Kundur yang mengandalkan sebagai tempat pemasarannya. Apalagi Batam yang populasinya lebih besar membuat kebutuhan akan sayur mayur menjadi lebih tinggi. Batam kini menjadi pilihan utama petani untuk memasarkan hasil kebun mereka.

“Harganya di Batam lebih tinggi. Penampung hasil tani ke Batam setiap hari selalu ada, dan mereka menunggu di Pelabuhan. Jadi kami tinggal antar ke pelabuhan dan dibayar sesuai dengan timbangan tanpa ditarget harus berapa banyak yang kami pasok,” kata Apeng petani di Urung, Kundur Barat beberapa waktu lalu.

Selain Batam, Tanjungbalai Karimun juga menjadi penampung hasil pertanian, baik berupa sayur dan cabai maupun jenis palawija lainya.

Setiap malam, kapal kayu asal Urung berangkat ke Batam. Dengan membawa ragam hasil pertanian, kelapa, pisang, buah buahan.

Kapal tersebut, tiba di Batam menjelang dini hari jika cuaca baik dan perjalanan dari Urung ke Batam menggunakan pompong ditempuh kurang lebih 7 jam.

Menurut petani, kehadiraan eksportir buah Pisang dan Nenas di Urung tidak akan mempengaruhi pengiriman Pisang dan Nenas ke Batam.

Walaupun, jenisnya sama karena petani sudah memiliki langganan masing-masing.

Harapan petani, kemudahan mendapatkan pupuk dan pestisida akan sangat membantu petani meningkatkan hasil pertanian berikut alat bantu pertanian berupa handtraktor atau traktor.

Petani kini mulai merubah haluan, mulai dari tanaman keras ke jenis buah dengan masa panen relatif singkat.

Lahan pertanian yang luas, maka petani sedang berupaya meningkatkan hasil panen tanaman ubi per hektare.

Minimnya pengetahuan petani, membuat masa panen dan hasil panen relatif biasa padahal pasar ubi di Kepri sangat menjanjikan.

Sabtu (20/10) bulan lalu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Karimun akan melakukan ekspor perdana buah Nenas dan komoditi lainnya ke Singapura dari Tanjung Batu, Kundur, Karimun.

Persiapan ekspor perdana tersebut, telah dipersiapkan sejak beberapa minggu lalu.

Petani nenas dan pisang di Kundur diminta, agar mampu memenuhi kebutuhan nenas di pasar Singapura. Setiap minggu minimal 40 ton.

Untuk tahap awal, petani diberikan target 20 ton minimal per minggu.

Hal itu terungkap pada ekspor nenas dan pisang di Urung, Kundur Barat oleh Bupati Karimun Aunur Rafiq, sekaligus meresmikan Unit Penanganan Segar (Packing House Operation). Pulau Kundur adalah salah satu daerah penghasil buah nenas dan pisang, di kepulauan Riau dengan luas areal pertanaman hampir mencapai 300 ha.

Dengan tingkat produktivitas, yang telah mencapai 10 hingga 20 ton perminggu.

Melihat potesinya cukup bagus, nenas dan pisang Kundur memiliki peluang untuk dijadikan komoditas ekspor andalan dari Pulau Kundur.

”Setelah melakukan persiapan yang matang, dan pengurusan dokumen ekspor komuditas lainnya. Sabtu (20/10) hari ini, kita akan melakukan ekspor perdana Nenas ke Singapura. Sebagaimana keinginan selama ini, yang sudah lama sangat diharapkan,” kata Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Karimun, Affan.

Nenas dan Pisang tidak kurang dari 20 ton yang akan di ekspor, dan ini menjadi awal yang baik bagi petani dan pengembangan komoditi buah Nenas ke depan. Petani telah berkomitmen, untuk mendukung kebutuhan ekspor setiap minggu. (tnt)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.