by

Belajar dari Ibrahim

-Opini-297 Views

Oleh : Yudhistira Andi Nugraha, S.Pd.I

Anggota ICMI Orda Kota Tanjungpinang

Wakil Ketua Keluarga Alumni Kammi

(KA KAMMI) wilayah Kepulauan Riau

 

 

Sering kita merasa taqwa

Tanpa sadar terjebak rasa

Dengan sengaja mencuri-curi

Diam-diam ingkar hati

Pada Allah mengaku cinta

Walau pada kenyataannya

Pada harta, pada dunia

Tunduk seraya menghamba

Reff:

Belajar dari Ibrahim

Belajar taqwa kepada Allah 2x

Belajar dari Ibrahim

Belajar untuk mencintai Allah

Malu pada Bapak para Anbiya

Patuh dan taat pada Allah semata

Tanpa pernah mengumbar kata-kata

Jalankan perintah tiada banyak bicara

 

Itulah sebuah bait lagu yang berjudul “Belajar dari Ibrahim” yang dibawakan oleh Tim Nasyid Snada.

Sengaja penulis membawakan tulisan ini yang diambil dari sebuah Nasyid itu, mungkin kita bertanya-tanya apa keistimewaan Nabiullah Ibrahim Alaihis Salam, sehingga Nabi Ibrahim begitu diagungkan, selama ini. Doktrin yang kita terima dari kisah Ibrahim adalah dengan sebuah peristiwa penyembelihan putra kesayangannya.

Namun ketahuilah jauh sebelum kisah itu, Ibrahim Alaihis Salam telah mengalami berbagai kisah dalam kehidupannya, tanpa kita ketahui. Maka dari sinilah penulis ingin mencoba menulis tentang kenapa kita harus belajar dari kisah Ibrahim Alaihis Salam. Nabi Ibrahim adalah seorang teladan yang baik. Perjalanan hidupnya selalu berpijak di atas kebenaran dan tak pernah meninggalkannya. Posisinya dalam agama amat tinggi (seorang imam) yang selalu patuh kepada Allah dengan mempersembahkan segala ibadahnya hanya untuk-Nya semata. Beliau pun tak pernah lupa mensyukuri segala nikmat dan karunia ilahi. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan selalu berpegang kepada kebenaran serta tak pernah meninggalkannya (hanif). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah l. Dia pun selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah.” (An-Nahl: 120-121)

Nabi Ibrahim merupakan sosok pembawa panji-panji tauhid. Perjalanan hidupnya yang panjang sarat dengan dakwah kepada tauhid dan segala liku-likunya. Bahkan Allah jadikan beliau sebagai teladan dalam hal ini, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian serta telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya; ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah’. (Ibrahim berkata): ‘Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir, dan ampunilah kami ya Rabb kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Mumtahanah: 4-5). Demikian pula, beliau selalu mengajak umatnya kepada jalan Allah l serta mencegah mereka dari sikap taqlid buta terhadap ajaran sesat nenek moyang. Allah l berfirman:

“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadah kepadanya?’ Mereka menjawab: ‘Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang nyata.’ Mereka menjawab: ‘Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?’ Ibrahim berkata: ‘Sebenarnya Rabb kalian adalah Rabb langit dan bumi, Yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang bisa memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya.’ Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berkeping-keping kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (Al-Anbiya`: 52-58)

Ibrahim, sejak muda ia adalah seorang lelaki yang teguh dalam mencari hakikat kebenaran. Ia tak tunduk dalam kejumudan tradisi penyembah berhala. Ia mencari kebenaran dan teguh memegangnya meskipun nyala api dikobarkan Namrud untuk membakar jasadnya. Pun setelah ia menjadi utusan Allah. Kecintaannya pada Allah melebihi kecintaannya pada keluarga, istri maupun buah hati yang amat dicintainya.

Sesungguhnya, secara fitri setiap manusia memiliki apa yang disebut dengan naluri untuk memiliki (gharizatu tamalluk) dan naluri untuk mempertahankan jenis (gharizatu nau’). Perwujudan dari naluri-naluri ini adalah berupa kecintaannya pada harta benda, kecintaannya pada anak dan istri, juga keinginannya untuk memiliki kedudukan, jabatan, penghormatan dan lain sebagainya. Sebagaimana dijelaskan dalam al Qur’an;

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (TQS. Ali Imran [3] : 14).

Pelajaran Berharga

Lantas dari semua kisah Ibrahim Alaihis Salam yang telah kita abaca referensinya dari berbagai buku yang telah terbit apa yang dapat kita ambil pelajarannya? Inilah inti dari sebuah tulisan ini.

Pelajaran pertama yang dapat kita ambil adalah sosok Nabi Ibrahim sebagai seorang suami dan ayah yang mampu mendidik keluarganya (anak dan isteri) sehingga menjadi orang-orang yang ridha dan taat pada perintah Allah semata.  Hal ini nampak pada perbincangan Nabi Ibrahim dengan putra beliau, Isma’il;

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Isma’il) menjawab. ’Wahai Ayahku! lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang  yang sabar.’ (TQS, Ash-Shaffat [37] : 102)

Lalu, adakah sesuatu yang seharusnya bisa kita contoh kenapa Isma’il, seorang anak yang masih belia rela menyerahkan jiwanya? Dan bagaimanakah Isma’il mampu memiliki kepatuhan yang begitu tinggi? Rupanya, untuk itu Ibrahim senantiasa berdoa memohon kepada Allah untuk dianugerahi anak yang shalih;

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang shalih.” (TQS. Ash-Shaffat [37] : 100)

Maka Allah pun mengkabukan doanya;

“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Isma’il).” (TQS, Ash-Shaffat [37] : 101)

Inilah rahasia kepatuhan Isma’il meskipun masih belia ia ikhlas dan sabar menerima apa yang telah Allah perintahkan kepada bapaknya. Semua ini tentu  tidak lepas dari peran serta orang tuanya dalam proses bimbingan dan pendidikan yang senantiasa diliputi kasih sayang, kesabaran dan ketaatan hanya kepada Allah semata.

Demikian pula Nabi Ibrahim telah berhasil mendidik isterinya, Hajar sebagai seorang wanita yang yakin pada janji Allah.  Wanita yang patuh dan taat kepada suami semata-mata karena kecintaanya kepada Allah, bukan yang lain. Maka tatkala telah pasti bahwa perintah untuk meninggalkan dia dan anaknya di gurun pasir yang gersang adalah perintah Allah, dia ridho dan yakin.

“Apakah Allah yang memerintahkan hal ini kepadamu?” Ibrahim menjawab, “Ya” Hajar berkata, “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami” (HR Bukhari)

Kedua Berprasangka baik kepada Allah. Sosok isteri sholihah yang ada pada diri Hajar.  Hajar, dialah wanita yang diberikan kepada Ibrahim dari pembesar Mesir. Ibrahim pun menikahinya. Hajar adalah seorang istri yang taat dan patuh pada suaminya. Kewajiban taat seorang istri kepada suami di sini tentu bukanlah ketaatan yang buta. Dan ketika Nabi Ibrahim secara tiba-tiba meninggalkan siti hajar dan Nabi Ismail di tengah2 gurun. Dengan sedikit mengejar, dipanggilnya Nabi Ibrahim secara perlahan oleh siti hajar. Berkatalah siti hajar, “Apakah ini perintah Allah Swt? Nabi Ibrahim menjawab,”ya ini perintah Allah Swt”. Lalu siti hajar berkata, “saya yakin tidak disia-siakan, karena Allah masih bersama saya dan Ismail”.

Ketaatan tersebut semata dalam rangka ketaatannya pada perintah Allah.  Inilah yang akan meringankan dan melapangkan isteri ketika melaksanakan perintah suami, seberat apapun perintah suaminya tersebut.  Isteri shalihah yakin bahwa dalam memenuhi perintah Allah pasti ada jaminan kemaslahatan dan pahala dari-Nya. Di mana Allah pasti tidak akan menyia-nyiakannya.

Ketiga Taqwanya Nabi Ibrahim dan Ismail kepada Allah Swt. Atas izin Allah SWT, Nabi Ibrahim pun dikaruniai seorang putra bernama Isma’il. Ketika itu Nabi Ibrahim bermimpi berulang kali diminta menyembelih putra tercintanya Isma’il as.

Sewaktu Nabi Ibrahim menyakini mimpi itu bersumber dari Allah SWT, Ia segera menyampaikan kepada putranya Isma’il as bahwa Allah SWT telah memerintahkannya untuk menyembelih Isma’il as. Jiwa kesalehan Isma’il pun diuji untuk berbakti kepada Rob-nya, Isma’il pun menurutinya. Tatkala pisau tajam yang dipersiapkan Nabi Ibrahim as akan menghunus leher Isma’il, Allah SWT melalui malaikat Jibril menggantikan Isma’il dengan seekor gibas. Gibas yang disembelih dan Isma’il selamat dari proses penyembelihan itu.

Dengan contoh diatas, dapat kita petik hikmah bahwasanya Ketqawaan kepada Allah lebih diutamakan, bersegera menunaikan apa yang Allah perintahkan dan tidak terjebak didalam hawa nafsu karena kecintaan kepada dunia.

Keempat Sosok Nabi Ibrahim dapat menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah, warrahmah. Ketaatan total kepada Allah yang dibuktikan oleh keluarga Nabi Ibrahim adalah wujud dari keimanan yang kokoh.  Hal ini nampak jelas dalam perbincangan antara Nabi Ibrahim dengan isterinya maupun dengan puteranya (Ismail), bahwa semuanya senantiasa memastikan “Apakah ini perintah Allah?”. Inilah kekuatan keimanan yang lahir dari aqidahnya (TQS.Ash-Shaffat [37]:111).

Iman yang kuat bukan hanya tersimpan dalam hati. Tapi, iman tersebut akan mampu mendorong untuk senantiasa tunduk terhadap ketetapan yang telah diimaninya serta mematuhi setiap yang diperintahkan-Nya. Keimanan yang melahirkan ketaatan dan keridhaan (sami’na wa ‘atho’na).  Dan ketaatan yang melahirkan anugerah; ditebusnya Isma’il dengan seekor domba. Ibrahim pun dijadikan pujian di kalangan orang-orang kemudian, dan dilimpahi kesejahteraan (TQS.Ash-Shaaffat [37]:107-110).

Beliau dengan istrinya; Hajar dan anaknya-Isma’il, di samping istri yang lainnya Sarah dan anaknya-Ishaq adalah contoh keluarga yang berhasil membangun kehidupan atas dasar keyakinan kepada Allah SWT. Mereka juga dapat membangun idealisme dan cita-cita yang sangat tinggi disertai dengan pengorbanan yang tanpa mengenal pamrih, kecuali hanya mengharap ridha Allah SWT.

Diakhir tulisan ini yang mejadi pertanyaan bagi kita adalah Dimanakah muslim yang berjiwa seperti Nabi Ibrahim ini? memang kita tak akan bisa seperti beliau namun setidaknya kita harus berusaha menjadi muslim yang taat dan tidak banyak membantah walau belum mampu untuk melakukannya. Wallahu A’lam bishawab. ***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.