by

Singapura Mulai Impor Listrik dari Negara Tetangga

SINGAPURA – Kebutuhan listrik di Singapura semakin meningkat setiap tahunnya. Sementara lahan di Singapura sangat terbatas untuk mendirikan pembangkit baru.

Hal ini membuat pemeritah Singapura mengambil keputusan untuk mengimpor listrik dari negara tetangga. Indonesia menjadi salah satu pertimbangan bagi Singapura dan dipelajari sebagai negara yang akan menjadisumber listrik di SIngapura. Hanya saja, kondisi listrik di Kepri masih sangat memprihatinkan. Bahkan untuk perawatan pembangkit saja PLN Batam yang merupakan penyedia listrik terbesar di Kepri mesti melakukan pemadaman bergilir.

Saat Singapura telah mulai mengimpor listrik dari Laos. Ini membuat tonggak bersejarah di Asia Tenggara.

Sebanyak empat negara Asean telah memungkinkan perdagangan listrik lintas batas multilateral pertama ini.

Seperti dilansir mothership.com, Otoritas Pasar Energi (EMA) menyebutkan, dalam proyek ini, Singapura akan mengimpor hingga 100 megawatt (MW) tenaga air terbarukan dari Laos,

100MW listrik yang diimpor dapat memberi daya sekitar 144.000 flat HDB empat kamar selama setahun.

Proyek Integrasi Tenaga Listrik Laos-Thailand-Malaysia-Singapura (LTMS-PIP) melibatkan pengiriman listrik dari Laos ke Singapura melalui interkoneksi yang ada di Thailand dan Malaysia.

The Straits Times media terkemuka di Singapura juga melaporkan, impor listrik dari Laos ini tidak serta merta mempengaruhi harga listrik di Singapura.

Menurut siaran pers EMA , LTMS-PIP adalah “pathfinder” yang bertujuan untuk mewujudkan visi Asean Power Grid (APG) yang lebih luas.

APG adalah inisiatif regional untuk meningkatkan interkonektivitas, ketahanan energi, dan keberlanjutan melalui interkoneksi listrik yang ada.

“Ini memberikan peluang untuk memanfaatkan sumber energi rendah karbon dan terbarukan di kawasan dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan meningkatkan keamanan dan stabilitas energi,” tambah EMA.

Sementara LTMS-PIP merupakan salah satu uji coba impor listrik yang sedang dikerjakan EMA untuk membuka jalan bagi impor listrik skala besar hingga empat gigawatt (GW) ke Singapura pada tahun 2035.

Keppel Electric merupakan anak perusahaan dari Keppel Infrastructure Holdings Pte Ltd, dan Electricite du Laos (EdL), perusahaan utilitas negara bagian Laos, telah menandatangani perjanjian pembelian listrik awal selama dua tahun.

“Proyek LTMS-PIP akan berjalan selama dua tahun, terhitung mulai 23 Juni 2022. Keppel Electric adalah entitas pertama yang diberikan izin importir listrik oleh EMA,” bunyi rilis EMA.

Ke depan, Keppel Electric dan EdL akan bekerja untuk membangun pelacakan, verifikasi, dan jaminan energi terbarukan, CNA melaporkan.

Singapura Incar Pembangkit Listrik dari Pulau Bulan Batam

Selain LTMS-PIP, ada dua pilot projek lain oleh EMA, di mana Singapura kini melakukan uji coba impor listrik dari negara tetangga.

Uji coba ini berfungsi untuk menguji kerangka teknis dan peraturan untuk mengimpor listrik ke Singapura.

Tahun ini, Singapura juga akan mengimpor listrik 100MW dari Malaysia melalui interkoneksi yang sudah ada antara kedua negara.

EMA telah menunjuk YTL PowerSeraya Pte Ltd sebagai importir untuk uji coba ini, yang akan berlangsung selama dua tahun.

Secara terpisah, EMA juga akan memulai proyek lain dengan konsorsium yang dipimpin oleh perusahaan pembangkit listrik PacificLight Power Pte Ltd.

Singapura akan mengimpor listrik non-intermiten setara 100MW dari pembangkit listrik tenaga surya di Pulau Bulan, Indonesia, di bawah proyek ini. Proyek ini diharapkan akan ditugaskan sekitar tahun 2024.

Listrik akan dipasok melalui interkonektor baru yang secara langsung menghubungkan pembangkit listrik tenaga surya ke pembangkit listrik di Singapura. (*/arl)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.